Dampak Covid-19 terhadap Keseimbangan Pasar


Menakar Dampak COVID-19 terhadap Variabel Makroekonomi: Model Ekonomi Sederhana

Sejak akhir tahun 2019 lalu, dunia telah digemparkan oleh adanya jenis virus baru yang melanda warga Wuhan, Tiongkok. Virus tersebut bernama Corona Virus Disease atau yang lebih dikenal sebagai COVID-19. Secara cepat COVID-19 menjalar ke berbagai negara tanpa pandang bulu, baik negara-negara maju seperti Korea Selatan dan Uni Eropa, maupun negara-negara berkembang seperti Malaysia dan Indonesia. COVID-19 sendiri merupakan suatu fenomena yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan dunia kesehatan. Namun demikian, penyebaran COVID-19 juga memiliki dampak terhadap aspek lain selain kesehatan, seperti aspek sosial dan ekonomi. Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Baldwin dan Di Mauro (2020) dalam suatu kurasi tulisan terbaru berjudul “Economics in the Time of COVID-19” dari VoxEU, yang menyebutkan bahwa COVID-19 tidak hanya merupakan guncangan bagi dunia kesehatan (health shock), namun juga merupakan guncangan bagi perekonomian (economic shock).
Setidaknya guncangan ekonomi yang terjadi akibat COVID-19 memengaruhi sisi penawaran (supply side shock) dan sisi permintaan (demand side shock). Dari sisi penawaran, penyebaran COVID-19 jelas akan memberikan dampak pada kesehatan tenaga kerja dan akan secara langsung menurunkan tingkat produktivitas tenaga kerja. Selain itu dalam rangka mencegah penularan virus yang semakin luas dengan melakukan pembatasan mobilitas, secara ekonomi hal tersebut akan membuat produktivitas menurun. Baldwin dan Di Mauro menjelaskan bahwa penurunan produktivitas tersebut mirip dengan penurunan sementara dalam jumlah tenaga kerja. Sedangkan dari sisi permintaan, COVID-19 memiliki pengaruh terhadap permintaan agregat melalui dua aspek, yaitu aspek praktis dan psikologis. Pada aspek praktis, COVID-19 membuat pergerakan konsumen semakin jarang untuk keluar rumah, sehingga frekuensi transaksi akan relatif lebih rendah dan tingkat konsumsi menjadi menurun. Sedangkan dari aspek psikologis, COVID-19 membuat agen ekonomi menghadapi ketidakpastian, sehingga konsumen dan perusahaan akan cenderung melakukan “wait and see” dalam keputusan ekonominya, atau dengan kata lain menahan kegiatan konsumsi dan investasinya. Hal tersebut akan membuat permintaan secara agregat akan menurun.
Dalam tulisan ini, penulis akan mencoba menjabarkan bagaimana transmisi dari dampak penyebaran COVID-19 terhadap variabel makroekonomi dalam suatu perekonomian. Penulis akan mencoba membangun suatu model sederhana keseimbangan umum perekonomian jangka pendek, kemudian mentransmisikan guncangan ekonomi yang terjadi akibat adanya COVID-19. Selanjutnya, penulis akan menawarkan kebijakan yang dapat diambil oleh pemerintah terkait dalam menanggulangi dampak jangka pendek dari guncangan ekonomi akibat penyebaran COVID-19.
Model Keseimbangan Ekonomi Sederhana
Dalam menganalisis kasus COVID-19 terhadap perekonomian secara makro, penulis membangun model matematika sederhana dengan pendekatan fondasi mikroekonomi. Oleh sebab itu, model akan dijabarkan berdasarkan perilaku dari masing-masing agen ekonomi. Selanjutnya, perilaku dari masing-masing agen ekonomi akan menciptakan suatu keseimbangan tertentu dari model. Model yang penulis bangun terinspirasi dari alur berpikir model Melitz (2003) yang menganalisis tentang heterogenitas perusahaan dalam perdagangan internasional.
Sisi Konsumen

Diasumsikan bahwa konsumen memiliki fungsi utilitas agregat CES (Constant Elasticity of Substitution) yang mengikuti fungsi utilitas dari model Dixit-Stiglitz (1977), yaitu:
Persamaan (1). Fungsi Utilitas Agregat





Persamaan (1'). Hubungan Rho (bagian kiri) dan Sigma (bagian kanan)



Dimana adalah utilitas agregat konsumen; adalah barang dan/atau jasa yang dikonsumsi; adalah jenis barang; serta Rho adalah parameter substitusi dan Sigma adalah elastisitas substitusi yang bernilai konstan.
Dalam memenuhi kebutuhannya, diasumsikan bahwa konsumen akan menggunakan seluruh pendapatannya untuk membeli barang dan/atau jasa. Secara agregat, total pendapatan dari konsumen adalah sebagai berikut:




Persamaan (2). Fungsi Total Pendapatan
Dimana adalah total pendapatan agregat konsumen dan adalah harga barang dan/atau jasa dalam perekonomian.
Diasumsikan bahwa konsumen merupakan agen ekonomi yang rasional, sehingga mereka akan memaksimalkan utilitasnya dengan suatu kendala tertentu. Kendala yang dimaksud dalam konteks ini adalah pendapatannya. Dengan demikian, masalah dari konsumen adalah memaksimalkan utilitasnya (Persamaan 1) dengan kendala pendapatannya (Persamaan 2).



Secara matematis, masalah tersebut dapat diselesaikan dengan menggunakan perangkat lagrangian, dimana akan didapatkan kondisi:
Persamaan (3). Kondisi saat Maksimisasi Utilitas
Dimana w’ adalah jenis barang lain selain w.
Sisi Produsen
Diasumsikan bahwa perusahaan berproduksi pada pasar persaingan tidak sempurna (imperfect competition market). Hal tersebut memberikan implikasi bahwa harga yang ditetapkan perusahaan akan lebih besar dari biaya marjinalnya (terdapat mark up). Selain itu, diasumsikan bahwa dalam jangka pendek, besarnya output produksi hanya dipengaruhi oleh banyaknya tenaga kerja dan nilai produktivitas tenaga kerja adalah konstan sebesar Phi. Fungsi produksi perusahaan juga diasumsikan bersifat increasing return to scale (IRS), dimana memberikan implikasi bahwa kenaikan seluruh input dengan proporsi sebesar a, akan membuat proporsi kenaikan output lebih dari a. Dengan demikian, maka harga dan output dari satu barang yang diproduksi oleh perusahaan adalah sebagai berikut:


Persamaan (4). Fungsi Harga Produk






Persamaan (5). Output sisi Penawaran
Dimana adalah mark up dari harga dan produktivitas memiliki nilai yang positif (Phi > 0); adalah gaji/upah; serta adalah faktor-faktor yang mengakibatkan terjadinya supply shock lewat tenaga kerja, seperti bencana alam dan lain-lain.
Keseimbangan Umum
Jika diasumsikan bahwa upah/gaji dalam jangka pendek bersifat kaku sehingga nilainya konstan, dan dengan melakukan substitusi Persamaan (4) ke dalam Persamaan (3), maka akan didapatkan kondisi sebagai berikut:









Persamaan (6). Hubungan Permintaan dan Produktivitas
Dimana Persamaan (6) mengimplikasikan bahwa permintaan agregat dari konsumen dipengaruhi secara positif oleh produktivitas tenaga kerja.
Secara grafis, dengan menggunakan Persamaan (4), (5), dan (6), maka kondisi keseimbangan dalam perekonomian dapat digambarkan pada Gambar 1 di bawah ini.
Dampak COVID-19 terhadap Keseimbangan Ekonomi
Penyebaran COVID-19 memiliki dampak langsung terhadap tenaga kerja. Hal tersebut membuat adanya guncangan pada sisi penawaran dalam perekonomian. Kesehatan dari tenaga kerja akan berisiko menurun sehingga mengganggu produktivitas dari tenaga kerja tersebut. Selain itu dari sisi ekonomi, pembatasan mobilitas manusia untuk mengurangi probabilitas meluasnya penularan COVID-19 seperti yang dilakukan oleh Jepang membuat adanya penurunan produktivitas dari tenaga kerja. Penurunan produktivitas tersebut tidak terlalu tinggi bagi sektor formal karena adanya perkembangan teknologi digital. Namun, bagi sektor informal seperti pedagang keliling, pembatasan mobilitas akan mengurangi jumlah jam kerja produktif mereka. Dengan kondisi tersebut, penurunan jam kerja produktif akan membuat output menjadi sangat menurun karena sifat produksi yang IRS. Penurunan proporsi output yang lebih besar daripada penurunan inputnya membuat produktivitas menjadi menurun.
Selain dari sisi penawaran, guncangan ekonomi akibat penyebaran COVID-19 juga dapat mengguncang sisi permintaan. Secara agregat, konsumsi masyarakat akan menurun karena adanya pembatasan dari mobilitas sehingga frekuensi transaksi mengalami penurunan. Selain itu, kelompok masyarakat yang bekerja pada sektor informal dengan pendapatan harian dan tidak pasti juga akan mengalami penurunan pendapatannya secara relatif dibanding sebelumnya. Penurunan pendapatan tersebut pada akhirnya akan membuat konsumsi pada masyarakat yang bekerja di sektor informal juga akan menurun. Hal tersebut akan mendorong adanya kontraksi dari sisi permintaan agregat. Dengan menggunakan perangkat model keseimbangan umum yang dijelaskan pada bagian sebelumnya, guncangan pada sisi penawaran dan permintaan dalam perekonomian akibat adanya penyebaran COVID-19 dapat digambarkan pada Gambar 2 di bawah ini. Pada Gambar 2 di bawah, awalnya perekonomian berada pada keseimbangan di titik A.
Kemudian, dampak dari COVID-19 yaitu kontraksi pada sisi penawaran digambarkan pada kurva produktivitas yang menurun dan kontraksi pada sisi permintaan digambarkan pada kurva permintaan yang bergeser ke arah kiri. Pada akhirnya, keseimbangan akibat pengaruh COVID-19 adalah pada titik B, yaitu turunnya produktivitas dan output pada perekonomian. Secara simultan, penurunan pada tingkat produktivitas membuat tingkat harga dalam perekonomian mengalami peningkatan. Hal tersebut sesuai dengan hukum kelangkaan dimana jika barang yang ada berjumlah relatif sedikit, maka harga barang tersebut akan relatif tinggi. Dengan demikian, model tersebut memprediksikan bahwa perekonomian akan mengalami kondisi stagflasi, yaitu saat terjadi penurunan output yang disertai dengan kenaikan harga.
Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan
Kondisi akhir dalam jangka pendek yang terjadi pada perekonomian akibat adanya penyebaran COVID-19 adalah terjadinya stagflasi. Dengan kondisi tersebut, pemerintah dan bank sentral dapat mengambil kebijakan yang bersifat ekspansif untuk menstimulasi sisi permintaan dan penawaran agar kembali pada titik keseimbangan awal sebelum terjadinya stagflasi akibat COVID-19. Dari sisi fiskal, kebijakan ekspansif dapat dilakukan dengan mengurangi pajak langsung atau menambah pengeluaran pemerintah. Dalam jangka pendek, pengurangan pajak langsung akan membuat insentif bagi masyarakat yang bekerja pada sektor formal untuk meningkatkan konsumsinya. Sedangkan pengeluaran pemerintah, dapat digunakan untuk cash transfer atau in-kind transfer terhadap masyarakat yang bekerja pada sektor informal sehingga bisa memastikan konsumsi terjaga dalam jangka pendek.
Pada sisi moneter, kebijakan ekspansif dapat dilakukan dengan menurunkan tingkat suku bunga di pasar uang. Tingkat suku bunga merupakan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan saat akan melakukan investasi. Hal tersebut karena saat perusahaan akan melakukan investasi, salah satu caranya jika perusahaan tidak memiliki modal adalah dengan melakukan pinjaman ke pasar uang. Pinjaman di pasar uang akan memiliki biaya sebesar suku bunga yang berlaku. Penurunan tingkat suku bunga memberikan implikasi bahwa biaya investasi akan relatif lebih murah. Kondisi tersebut akan menjadi insentif bagi perusahaan untuk meningkatkan investasinya. Peningkatan investasi perusahaan dapat digunakan untuk melakukan ekspansi produksi dan efisiensi dalam perusahaan, sehingga kapasitas output dapat ditingkatkan. Peningkatan pada kapasitas output pada gilirannya akan membutuhkan tenaga kerja, sehingga permintaan tenaga kerja akan meningkat dan produktivitas meningkat karena sifat produksi yang IRS.
Pada akhirnya, kondisi perekonomian setelah adanya stimulus digambarkan secara grafis pada Gambar 3 dibawah ini
Kebijakan fiskal ekspansif akan membuat permintaan masyarakat meningkat dan menggeser kurva permintaan pada model ke kanan. Sedangkan kebijakan moneter ekspansif akan membuat kurva produktivitas bergeser ke atas karena kenaikan produktivitas tenaga kerja dalam produksi. Kedua stimulus tersebut akan membuat kondisi perekonomian kembali pada kondisi awal di titik A, dimana output akan kembali meningkat dan tingkat harga akan menurun seperti kondisi keseimbangan awal.

Peer Review: Bianca Andrea Alexandra dan Adinda Putri Safira


Daftar Pustaka
Baldwin, R., & di Mauro, B. W. (2020). Economics in the Time of COVID-19. London: CEPR Press.
Blanchard, O. (2017). Macroeconomics 7th. Harlow: Pearson Education Limited.
Dixit, A. K., & Stiglitz, J. E. (1977). Monopolistic Competition and Optimum Product Diversity. The American Economic Review, 297–308.
Melitz, M. J. (2003). The Impact of Trade on Intra-Industry Reallocations and Aggregate Industry Productivity. Econometrica, 1695–1725.

Komentar

Postingan populer dari blog ini